Tradisi Penggunaan Roti Buaya Tak lagi Sama
Suku Betawi merupakan sebuah suku bangsa di Indonesia yang penduduk umumnya menempati wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebagaimana suku lain di Indonesia, suku Betawi juga memiliki makanan dan aneka kue yang menjadi ciri khas suku Betawi yaitu Roti Buaya.
Roti buaya merupakan hidangan Betawi berupa roti manis berbentuk buaya dan bagian yang tidak terpisahkan dari adat suku Betawi. Dalam acara pernikahan, roti buaya biasanya disajikan di atas sebuah nampan bertutupan plastik bening agar terjaga dari kotoran dan dapat dilihat keunikan lekuk bentuk buayanya.
“Kalau calon mertua dari pihak laki-laki tidak bawa roti buaya nanti tuh akan diusir, karena itu simbol kesetiaan,” kata Lala menegaskan. Ia juga menyebut, makin keras dan makin besar roti buaya, maka semakin baik. Karena roti itu akan disimpan selamanya.
Roti buaya berukuran besar melambangkan mempelai pria, sedangkan yang berukuran lebih kecil melambangkan mempelai wanita. Ada pula beberapa roti buaya yang sangat kecil sebagai perlambang bahwa mempelai wanita siap melepas masa lajang dan menjadi istri untuk memberikan keturunan kepada mempelai pria.
Roti buaya yang dibawa oleh calon mempelai pria dipajang di tengah-tengah ruangan hingga acara pernikahan selesai. Selanjutnya, roti tersebut diletakkan di atas lemari pakaian kamar pengantin dan dibiarkan begitu saja, hingga hancur dan berbelatung. Inilah yang menjadi simbol jika sepasang suami istri hanya dapat dipisahkan oleh maut dan raga yang telah dikerumuni belatung.
Namun, pernikahan adat betawi sangat berbeda. Saat ini esensi roti buaya dalam adat pernikahan Betawi telah mengalami perubahan.
“Sayangnya, pernikahan adat Betawi dulu dan sekarang jauh berbeda sekali. Kalau dulu yaa, roti buaya sengaja dibuat sekeras mungkin, semakin keras roti, semakin baik kualitas roti tersebut. Tujuan sebenarnya dari pembuatan roti buaya ini bukan untuk dimakan,” kata Lala
Zaman sekarang, dalam pernikahan adat Betawi, roti buaya tidak lagi dibiarkan membusuk dan berbelatung. Melainkan akan dibagi-bagikan pada tamu undangan seusai acara pernikahan. Maksudnya ialah agar tamu undangan yang masih melajang segera diberikan jodoh dan bisa segera menikah.
Wujud roti saat ini pun juga sudah
berbeda. Tekstur roti buaya yang ada kini lebih lembut dan dilengkapi dengan
variasi rasa yang beragam. Berbeda dengan bentuk roti buaya zaman dahulu yang
sangat berat juga keras seperti batu serta polos tanpa adanya variasi rasa.

Komentar